Menggali Potensi KPHP Pada Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Karst, mempunyai pengertian sebagai suatu kawasan yang memiliki karakteristik relief dan drainase yang khas, disebabkan oleh derajat pelarutan batu-batuan yang intensif, terutama batuan gamping dan dolomit. Ekosistem karst memiliki keunikan, baik secara fisik yang ditandai dengan perbukitan, lembah-lembah terjal, gua dan sungai bawah tanah, maupun secara keanekaragaman hayati.

Uniknya ekosistem tersebut membuat karst berpotensi terutama sebagai pemasok ketersediaan air tanah/air bersih, yang dengan perkembangannya kini sebagian besar kawasan karst telah menjadi lokasi wisata alam, budaya dan ilmiah, serta tak luput dari ancaman kelestarian kawasan mencakup penambangan marmer, semen, maupun penggalian batu kapur.

Indonesia sendiri sangat kaya akan kawasan karst, dengan luas sekitar 15,4 juta hektar dan tersebar hampir di seluruh Nusantara dengan perkiraan umur mulai 470 juta tahun sampai yang terbaru sekitar 700.000 tahun. Mulai dari ujung pulau Sumatra di wilayah Gunung Leuser, Bahorok di Sumatra Utara, Payakumbuh di Sumatra Barat, pegunungan kapur utara di wilayah Jawa Tengah, pegunungan Sewu di Bantul-Tulungagung, Blambangan di Jawa Timur, pegunungan Schwaner di Kalimantan Barat, pegunungan Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur, Maros Pangkep di Sulawesi Selatan, hingga ke wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan masih banyak kawasan karst lainnya. Kawasan karst pegunungan Sewu, Maros, dan Lorentz bahkan telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi Kawasan Warisan Dunia, dimana kawasan karst di Maros Pangkep adalah kawasan karst terbesar kedua sedunia setelah kawasan karst di China. 

 

Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat by Djuna Ivereigh @The Nature Conservacy

Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kalimantan Timur Seperti telah disebutkan, bahwa di Kalimantan Timur juga memiliki kawasan karst. Salah satunya berada di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, yang dihiasi perbukitan hijau, dinding-dinding terjal dan gua bawah tanah yang eksotis, membentang indah dan meraksasa dari Kabupaten Berau hingga Kabupaten Kutai Timur.

Pada dinding-dinding guanya terdapat jejak kehidupan manusia purba berupa lukisan tangan dan lukisan berbagai jenis binatang, yang diperkirakan sudah berusia sekitar 10.000 tahun Sebelum Masehi. Berdasarkan hasil penelitian, diperkirakan penyebaran rumpun manusia purba Austronesia berawal di pegunungan karst Sangkulirang, yang artinya disinilah titik awal masuknya manusia purba ke wilayah Nusantara.

Di bagian-bagian tertentu kawasan dapat ditemui gua sungai berlorong panjang yang dihiasi ornamen-ornamen unik seperti gourdam dan beberapa stalagtit, stalagmit, serta flowstone yang memancarkan kristal kalsit. Sungai-sungai bawah tanah tersebut merupakan sumber air dari lima sungai utama yang mengalir ke wilayah Karangan, Sangkulirang, Bengalon dan Wahau di Kabupaten Kutai Timur, dan wilayah Tabalar dan Kelay di Kabupaten Berau, dimana kelima sungai utama dimaksud tentunya menjadi sumber kehidupan utama bagi masyarakat sekitarnya.

Selain memiliki keindahan dan keunikan alam, karst Sangkulirang-Mangkalihat juga menyimpan potensi sumber daya alam bernilai ekonomis, berupa sarang burung walet, potensi wisata alam, hasil hutan kayu maupun non kayu, serta batuan mineral. Keanekaragaman hayatinya pun melimpah, diantaranya menjadi salah satu habitat penting orang utan dan beberapa fauna endemik lain, selain menjadi kawasan berpotensi penyerapan karbon yang cukup tinggi.

Guna menjaga kelestarian kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sendiri telah menerbitkan Peraturan Gubernur Kaltim nomor 67 tahun 2012 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karst Sangkulirang-Mangkalihat di Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau. Telah diusulkan pula penetapan hutan desa seluas 11.000 hektare yang berada dalam lokasi bentang alam karst Desa Merabu Kecamatan Kelay Kabupaten Berau, dimana usulan tersebut telah diterima Kementerian Kehutanan dengan menetapkan Hutan Desa melalui SK Hutan Desa Nomor 28/Menhut-II/2014 tanggal 04 Maret 2014.

KPHP Sebagai Penanggung Jawab Di Tingkat Tapak Pada wilayah kerja BP2HP Wilayah XIII Samarinda, berdasarkan Peta Evaluasi Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) & KPHP, Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sebagai lingkup Balai telah dibagi ke dalam 4 (empat) KPHL dan 30 (tiga puluh) wilayah KPHP. Sampai dengan tahun 2014, seperti yang telah dijelaskan disini, KPHL dan KPHP yang sudah terbentuk dan ditetapkan serta telah memiliki SDM, baru sejumlah 1 (satu) unit KPHL dan 10 (sepuluh) KPHP. Antara lain KPHL Tarakan, KPHP Berau Barat, KPHP Meratus, KPHP Kendilo, KPHP Malinau, KPHP Kayan, KPHP Bongan, KPHP Santan, KPHP Telakai, KPHP Delta Mahakam, dan KPHP Belayan. Sebagai penanggung jawab di level tapak guna terselenggaranya pengelolaan hutan produksi secara efisien dan lestari, peran KPHP-lah yang terutama di sini untuk menjaga kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat yang didominasi hutan produksi.

Terkait hal tersebut, menggali potensi kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat adalah langkah penting guna mendukung rencana pengelolaan wilayah KPHP, yang diwujudkan dalam kegiatan observasi khusus kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, dengan kerjasama antara tim dari Bappenas, Peneliti ITB, Direktorat Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan, TNC (The Nature Conservacy), serta BP2HP Wilayah XIII Samarinda. Keseluruhan tim berjumlah 11 (sebelas) orang ditambah 2 (dua) orang pemanjat tebing profesional asal Kabupaten Kutai Timur.

Desa Merabu Kegiatan observasi yang merupakan kerjasama antara 6(enam) tim tersebut dilaksanakan di Desa Merabu Kecamatan Lesan Kabupaten Berau selama 5 (lima) hari, dari tanggal 17 s.d 21 September 2014. Desa Merabu yang masih merupakan bagian dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat dan bersinggungan langsung dengan areal IUPHHK HA PT. Utama Damai Indah Timber, sebenarnya termasuk ke dalam areal KPHP Berau Tengah yang sayangnya belum terbentuk organisasi kelembagaannya.

Desa Merabu dapat ditempuh melalui akses perjalanan darat menggunakan kendaraan selama 2,5 jam dari ibukota Kabupaten Berau Tanjung Redeb, atau selama 8 jam dari ibukota Kabupaten Kutai Timur Sangatta. Letak lokasi Desa Merabu sebagaimana terlihat pada peta berikut.

 

Peta1 Lokasi Desa Merabu di Pulau Borneo
 

Desa Merabu berpenduduk sekitar 55 KK dengan suku asli adalah suku Dayak Lepok, dan suku pendatang adalah suku Dayak Wehea, suku Gorontalo dan suku Jawa. Kesemua suku hidup berdampingan dengan damai karena sudah adanya ikatan pernikahan antar suku. Pekerjaan penduduk selain bercocok tanam, juga bekerja sebagai pencari burung walet, pemandu wisata gua, porter, dan pegawai perusahaan PT. Utama Damai Indah Timber. Rumah-rumah penduduk tertata rapi dan terjaga kebersihan lingkungannya, terletak bersebelahan dengan Sungai Kelay.

Kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat di areal Desa Merabu diidentifikasi memiliki 12 (dua belas) gua dan liang, yaitu gue Sidepanbu, gua Keteban, gua Kabila, gua Huarto, gua Boloyot, gua Kuburan, gua Lubang Momo, gua Arman Bata', gua Galungan, liang/lubang Momo, liang Abu dan liang Kecabe, sebagaimana dapat dicermati pada peta berikut yang sebelumnya pada tahun 2012 sudah dipetakan oleh Acintyacunyata Speleological Club dari ITB dengan pimpinan Dr. Pindi Setiawan, dimana beliau turut serta pula dalam observasi kali ini.  

 
Peta2
Lokasi sebaran gua dan liang di sekitar Desa Merabu
 

Danau Nyadeng Hari pertama tim berkesempatan mengunjungi Danau Nyadeng yang terbentuk pada areal kawasan karst. Danau ini dapat ditempuh dengan perjalanan air menggunakan perahu selama 15 menit dan perjalanan darat melalui jalan setapak dengan berjalan kaki selama 15 menit. Danau Nyadeng seperti yang dapat dilihat pada gambar dibawah, memiliki kedalaman air sekitar 35 meter dengan warna air hijau kebiru-biruan, yang dipengaruhi oleh keberadaan ganggang di bawahnya. Keindahan Danau Nyadeng ini dapat digali oleh pemangku KPHP sebagai potensi wisata alam, pemanfaatan sumber daya air maupun jasa lingkungan.

 
karst1
     
karst2
Keindahan Danau Nyadeng
 

Gua Boloyot Tim berkunjung ke gua Boloyot pada hari kedua. Di gua ini ditemukan gambar-gambar peninggalan manusia purba berupa lukisan binatang, telapak tangan dan anak-anak, dimana temuan ini telah diidentifikasi oleh Peneliti Karst dari ITB, Dr. Pindi Setiawan, seperti yang tadi telah disebutkan, dengan perkiraan umur gua sekitar 200 juta tahun. Adanya keberadaan lukisan-lukisan purba tersebut, direncanakan pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur dan Kabupaten Berau akan mengusulkan kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat sebagai kawasan warisan dunia (world heritage), agar peninggalan pra sejarah di bumi Kalimantan ini tetap lestari. Berikut gambar lokasi Gua Boloyot dengan peninggalan lukisan manusia purbanya.

 
karst3
 
karst4
Lokasi Gua Boloyot dan lukisan peninggalan manusia purbanya
 

Gua Keteban dan Gua Kabila Pagi hari di hari ketiga tim menuju Gua Keteban, dan siang harinya ke Gua Kabila. Gua Keteban merupakan gua sungai dimana air hujan yang masuk ke dalam karst terinfiltrasi selama 2 bulan dan membentuk sungai di dalam gua. Di sini banyak ditemukan hewan-hewan spesifik ekosistem gua seperti ular, kelelawar, walet, kelabang, dan laba-laba. Sementara Gua Kabila merupakan gua berdinding lebar dan tinggi dengan kedalaman sekitar 2 kilometer. Berikut adalah gambar Gua Keteban.

 
karst5
Gua Keteban dengan sungai bawah tanahnya
 

Gua Sidepanbu Pada hari keempat tim mengunjungi Gua Sidepanbu, yang merupakan gua sungai dengan debet air yang besar. Di perjalanan menuju gua terdapat berbagai hasil hutan bukan kayu, diantaranya rotan, sarang walet dan pohon madu. Sementara hasil hutan kayu di sekitar areal masih berupa tegakan muda, karena sebelumnya pada tahun 1997an terjadi peristiwa kebakaran besar di Kaltim, termasuk areal ini. Berikut gambar Gua Sidepanbu.

 
karst6 Penampakan Gua Sidepanbu
 
karst7
Salah satu flora cantik di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat
 
karst8
Dan ini salah satu faunanya yang tak kalah cantik
 

RESUME Adalah tantangan dan tanggung jawab Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) nantinya untuk menjaga keutuhan dan kelestarian kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat, sebagai pemangku kawasan di tingkat tapak. Selain keanekaragaman hayatinya yang begitu eksotis dan unik, keanekaragaman hasil hutan bukan kayu yang cukup melimpah dan keberadaan masyarakat sekitar hutan khususnya di Desa Merabu, dapat disinergikan bersama menjadi rencana pengelolaan wilayah KPHP. Potensi-potensi lain yang dapat digali sebagai rencana pengelolaan wilayah antara lain potensi wisata air, potensi wisata gunung, potensi jasa lingkungan dan potensi wisata pendidikan karst.

Lainnya yang tak kalah penting menjadi catatan adalah Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat sangatlah layak untuk diusung ke tingkat internasional (UNESCO) sebagai salah satu Kawasan Warisan Dunia dengan keberadaan lukisan-lukisan peninggalan manusia purbanya. Apalagi mengingat Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan kawasan karst dengan tipologi terlengkap, dengan tiga topologi yaitu areal pegunungan, areal menengah, dan areal pesisir. Dengan demikian kawasan unik ini dapat dijadikan acuan pendidikan dan penelitian karst tingkat dunia.

Tentunya KPHP tidak bisa berdiri sendiri dalam hal ini. Dalam pelaksanaan kinerjanya, KPHP hanya sebagai operator di tingkat tapak, tentu sangat membutuhkan dukungan para penanggung jawab di tingkat administrator, baik Dinas Kehutanan Kabupaten/Provinsi, Badan Lingkungan Hidup, BAPPEDA, Lembaga Swadaya Masyarakat, serta Pemerintah Daerah/Provinsi Kalimantan Timur khususnya.

Catatan terakhir adalah kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat masih berada di luar lingkup kerja keseluruhan KPHP yang telah terbentuk di Provinsi Kalimantan Timur, termasuk KPHP Model Berau Barat yang berada di Kabupaten Berau, maupun KPHP Santan yang mencakup wilayah Bontang dan sebagian Kabupaten Kutai Timur. Lokasi Desa Merabu sendiri termasuk wilayah Berau Tengah, dengan demikian sangat layak apabila wilayah Berau Tengah dibentuk KPHP terpisah. Pe-er ini seyogyanya dapat ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah/Provinsi Kalimantan Timur dan Kementerian Kehutanan, minimal masuk ke dalam rencana pembentukan secepatnya, karena bukan tidak mungkin Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat akan menjadi Kawasan Warisan Dunia (world heritage) satu-satunya di bumi Kalimantan Timur.

(Sumber : Laporan Tim Balai, Wikipedia, dan Alamendah.org)